Dokter Umum Bisa Bantu Cegah Kebutaan Glaukoma

Apa itu glaukoma?
Glaukoma adalah penyakit saraf mata yang berhubungan dengan peningkatan tekanan bola mata. Penyakit ini merupakan penyebab kebutaan nomor dua di Indonesia. Kehilangan penglihatan yang diakibatkan oleh glaukoma dapat dicegah melalui deteksi dini dan terapi oleh dokter .

Kenapa dokter umum penting?
Dokter umum sebagai lini terdepan pelayanan kesehatan masyarakat, perlu mengenali gejala glaukoma secara dini untuk mencegah terjadinya kebutaan yang permanen. Selain itu dokter umum juga dituntut dapat menangani kasus kegawatdaruratan akibat glaukoma.

Gunakan TOP untuk mengenali glaukoma
TOP adalah singkatan dari tonometri, oftalmoskopi dan perimetri.

Tonometri
Tonometri adalah alat untuk mengukur tekanan intra okular (TIO). TIO digolongkan sebagai normal apabila nilainya antara 10-21 mmHg. TIO yang tinggi (>21 mmHg) adalah salah satu faktor risiko glaukoma. Mekanisme TIO tinggi adalah gangguan aliran keluar cairan akuous akibat disfungsi system drainase di bilik mata depan (sudut terbuka) maupun karena penutupan sudut bilik mata itu sendiri (sudut tertutup).


Salah satu pemeriksaan tonometri sederhana menggunakan Schiøtz tonometer. Angka yang didapatkan dari skala dirujuk ke tabel konversi untuk mendapatkan nilai TIO dalam mmHg.

Oftalmoskopi
Bila ada kecurigaan glaukoma berdasarkan keluhan atau faktor risiko pada pasien, pemeriksaan oftalmoskopi dilakukan untuk memastikan diagnosis. Kelainan dikatakan bermakna bila ada pembesaran cup-to-disc ratio (CDR) lebih besar dari 0.5, dan asimetri CDR antara dua mata 0.2 atau lebih.

Siapa saja yang berisiko?
1. Tekanan bola mata tinggi >21mmHg (risiko meningkat 5x)
2. Usia di atas 40 tahun
3. Rabun dekat yang ekstrim
4. Tekanan darah tinggi (peningkatan risiko 80%)
5. Kencing manis/ diabetes melitus (risiko meningkat 2x)
6. Cedera mata sebelumnya
7. Glaukoma pada keluarga (risiko meningkat 3x)
8. Penggunaan steroid jangka panjang(risiko meningkat 3x)
9. Asimetri TIO & CDR antara 2 mata

Perimetri
Kerusakan nervus optikus memberikan gangguan lapang pandangan yang khas pada glaukoma. Secara sederhana, lapang pandangan dapat diperiksa dengan tes konfrontasi.

Jenis glaukoma?
Pasien glaukoma dapat dibagi menjadi glaukoma akut dan kronik, primer atau sekunder, dan sudut terbuka atau sudut tertutup.

Glaukoma Akut
Glaukoma akut biasanya terjadi secara mendadak, dengan gejala nyeri mata yang berat atau sakit kepala, mata buram, melihat pelangi di sekitar lampu, mual dan muntah. Serangan ini harus segera ditangani agar tidak menyebabkan kebutaan.Pada glaukoma jenis ini terjadi hambatan penyaluran keluar cairan akous yang menyebabkan peningkatan tekanan intra okular mendadak dan dramatis.

Glaukoma kronik
Perjalanan penyakitnya lambat sehingga perlu pemeriksaan periodik untuk deteksi dan penanganan dini. Penderita glaukoma tipe ini biasanya sering tersandung saat berjalan karena telah terjadi penyempitan lapang pandang akibat glaukoma, sedangkan penglihatan sentralnya tidak terganggu. Hal ini menyebabkan penderita sering kali datang ke dokter dalam stadium lanjut.

Glaukoma Primer atau Sekunder
Glaukoma primer dicurigai bila terdapat kelainan pada pemeriksaan TOP di kedua mata. Glaukoma sekunder dicurigai bila hanya satu mata yang terganggu dan ada kecurigaan penyebab gangguan drainase cairan akuous yang jelas.


Glaukoma Sudut Terbuka atau Sudut Tertutup

Anyaman trabekulum tampak

Anyaman trbekulum tertutup pangkal iris


Glaukoma kongenital

Anak-anak yang lahir dengan gangguan sudut bilik mata akan mengalami drainase cairan akuos yang terhambat. Gejala yang muncul biasanya kornea keruh, fotofobia, dan epifora.

Alat diagnostik mutakhir untuk deteksi dini glaukoma:
Tekanan bola mata dengan non contact tonometry, tonometer aplanasi dan tonopen.
Perimeter komputer Humphrey
Pengukuran ketebalan lapisan saraf mata dengan Optical Coherence Tomography (OCT) dan Heidelberg Retinal Tomography (HRT)
Pengukuran kedalaman bilik depan bola mata dengan anterior OCT

Penulis : dr. Virna Dwi Oktariana, SpM

Followers